Senin, 20 Juli 2015

Tembang macapat relatif lebih mudah didendangkan. Sebab, aturan-aturan dalam macapat lebih tak sekaku kakawin. Selain itu dalam tembang macapat, perbedaan antara suku kata panjang dan pendek diabaikan.
Setiap bait macapat mempunyai baris kalimat yang disebut gatra, dan setiap gatra mempunyai sejumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sajak akhir yang disebut guru lagu. Menurut pujangga Ranggawarsita, macapat merupakan singkatan dari frasa maca-pat-lagu yang artinya ialah “melagukan nada keempat”. Namun ada pula yang mengartikan macapat sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata.
Adapun kesebelas tembang yang termasuk dalam tembang macapat yakni tembang Pangkur, Maskumambang, Sinom, Asmaradana, Dandanggula, Durma, Mijil, Kinanthi, Gambuh, Pocung dan Megatruh. Konon, setiap tembang memiliki maksud dan watak tersendiri.
1. Mijil. Mijil bermakna lahir. Kelahiran seorang anak ke muka bumi merupakan hasil olah spiritual dan jasmaniah antara laki-laki dan wanita. Tembang ini memiliki watak prihatin dan memuat rasa lega.
2. Maskumambang. Maskumambang menggambarkan kebahagiaan orang tua setelah lahir si jabang bayi. Tembang ini juga menggambarkan betapa takutnya orang tua akan kehilangan anak yang disayangnya. Watak dari tembang ini adalah ngeres, nelangsa.
3. Kinanthi. Kinanthi menggambarkan binaan dan bimbingan orang tua pada sang anak, siang dan malam. Kinanthi bermakna dikanthi-kanthi (diarahkan dan dibimbing) agar menjadi manusia sejati yang selalu menjaga bumi pertiwi. Watak tembang ini adalah tresna, asih, dan seneng.
4. Sinom. Sinom bermakna “isih enom”. Dalam tembang ini digambarkan orang tua yang selalu menjaga anaknya yang beranjak remaja agar tak salah langkah. Watak tembang Sinom adalah grapyak.
5. Dandanggula. Pada tembang ini, anak yang memasuki usia remaja telah beranjak dewasa. Ia mulai gemar berkelana dan mencoba hal-hal baru. Maka dalam tembang ini dituliskan kehati-hatian untuk membimbing sang anak agar tetap berjalan di jalan yang benar. Watak tembang Dandanggula adalah luwes, ngresepake.
6. Asmarandana. Asmarandana menggambarkan membuncahnya gejolak asmara masa muda di tengah keharusan menggapai cita. Tembang ini berwatak kesengsem.
7. Gambuh. Tembang yang bermakna Gampang Nambuh ini menggambarkan sikap angkuh serta acuh tak acuh. Tembang ini menjadi pepeling agar jangan menjadi orang tinggi hati sebelum mampu meraih makna hidup sejati. Tembang ini berwatak semanak, lucu, guyon.
8. Durma. Tembang ini dimaknai sebagai “mundurnya tata krama”. Pertengkaran dan kekerasan memenuhi jagat raya. Maka selalu diingatkan agar eling dan waspada. Tembang ini berwatak galak, nesu.
9. Pangkur. Pada tembang ini, sang anak yang dulu dilahirkan, mulai menyesal akibat merenungi kekeliruan yang telah dilakukan pasa masa lampau. Tembang ini berwatak nepsu kang prihatin.
10. Megatruh. Megatruh atau megat-ruh, menggambarkan putusnya nyawa dari raga. Ajal datang sekonyong-konyong terkadang tanpa sempat untuk memperbaiki diri. Oleh karena itu tembang ini berwatak getun, nglangut.
11. Pocung. Tembang Pocung bermakna orang yang telah mati kemudian dibungkus kain kafan. Seluruh yang dimiliki di dunia sirna seiring terputusnya nyawa dari raga.
sumber:(Fadhil/CN41/SMNetwork)

0 komentar:

Posting Komentar